penyelarasan kurikulum bersama iduka
- Posted on 11 Agustus 2022
- artikel
- By Sukirman (Ketua Umum PERKIVI)
Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) tidak mungkin bisa menjadi Sekolah Vokasi Unggulan jika
tidak bekerjasama dengan Industri dan Dunia Kerja (IDUKA). Sekolah yang
mengabaikan keterlibatan IDUKA, hanya akan menjadi SMK yang bersifat akademis,
tidak memiliki kemampuan untuk memperlengkapi siswa agar terampil dan berdaya
guna di dunia kerja.
Sebagaimana
tujuan utama didirikannya SMK adalah menghasilkan tenaga-tenaga kerja tingkat
menengah yang kompeten di IDUKA. Dan untuk mencapai tujuan ini, Sekolah Vokasi
mau tidak mau harus melibatkan IDUKA dalam pengembangan dan penyelarasan
kurikulum, juga dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Kurikulum di Sekolah
Vokasi harus bersifat dinamis dan relevan dengan kondisi zaman. Kurikulum yang
disediakan oleh kementerian tidak bersifat kaku dalam penerapannya di sekolah,
karena itu perlu dilakukan sinkronisasi dan validasi kurikulum dengan IDUKA.
Kegiatan
sinkronisasi dan validasi kurikulum ini dilakukan untuk mengembangkan, menyelaraskan,
mengimplementasikan dan mengevaluasi pelaksanaan kurikulum secara sistematik,
procedural dan efektif. Sekolah Vokasi Unggulan harus mampu mengembangkan
kurikulum secara mandiri sehingga relevan dengan kebutuhan zaman. Karena itu,
diperlukan tim pengembang kurikulum yang memiliki kemampuan untuk merancang dan
mendesain paket pembelajaran yang tertuang dalam dokumen kurikulum secara utuh.
Pilihan
kurikulum yang dikembangkan dapat berupa penambahan dan penyisipan dari
kurikulum yang telah ada. Namun, tidak menutup kemungkinan pula untuk merombak
total kurikulum yang telah ada sehingga dihasilkan kurikulum baru yang
adaptable dan relevan. Hasil kurikulum yang dikembangkan oleh tim internal
sekolah ini, lalu tidak serta merta dilaksanakan. Sekolah perlu mengundang pihak IDUKA untuk memberi masukan dan
menyelaraskan kurikulum yang telah dikembangkan sesuai dengan situasi dan
kondisi terbaru di IDUKA.
Industri
dan Dunia Kerja selalu bersifat dinamis.
Selalu ada perkembangan dan inovasi terbaru yang diadaptasi. Sekolah Vokasi
tidak boleh berpuas diri dengan menerapkan kurikulum warisan yang ada. Harus
ada upaya untuk melakukan penyelarasan kurikulum yang telah ada. Karena itu,
kegiatan sinkronisasi dan validasi kurikulum ini harus kontinu dilakukan setiap
tahun untuk memastikan proses pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Vokasi
relevan dan kontekstual dengan perkembangan yang terjadi di IDUKA.
Selanjutnya,
dari dokumen kurikulum yang telah diselaraskan, guru membuat silabus untuk
setiap mata pelajaran yang diajarkan. Silabus ini kemudaian menjadi dasar bagi
guru untuk merancang program pembelajaran secara tahunan dan semester, juga
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dalam Implementasi Kurikulum
Merdeka disebut dengan Modul Ajar untuk setiap pertemuan tatap muka.
Berdasarkan kurikulum yang telah dikembangkan dan diselaraskan, tugas
berikutnya adalah bagaimana sekolah memastikan guru mengejar kualitas
pembelajaran di kelas. Pada dasarnya, kurikulum hanyalah desain. Pelaksanaan
pembelajaran di kelas harus diupayakan dengan sebaik-baiknya untuk melatih
siswa mengembangkan kemampuan Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Sudah
tidak zamannya lagi guru menghadirkan proses pembelajaran yang berada di level
mengingat dan menerapkan. Di era industri 4.0 sekarang ini, siswa harus dilatih
untuk berpikir tingkat tinggi, paling rendah pada kemampuan menganalisa. Jika
memungkinkan hingga kemampuan untuk
mengevaluasi dan mencipta. Pelaksanaan pembelajaran harus memanfaatkan sarana
dan prasarana sebagai media dan sumber belajar. Hal ini direncanakan sebelumnya
oleh guru dan tertuang dalam RPP yang disusun.
Guru
harus memikirkan antara ketersediaan waktu dengan kecukupan dan kesesuaian
peralatan yang akan digunakan, khususnya saat akan melaksanakan praktikum.
Sedapat mungkin, setiap siswa berkesempatan untuk melakukan praktik, tidak
sekedar melihat simulasi yang ditunjukkan oleh guru atau beberpa siswa saja.
Terkait penggunaan sarana dan prasarana dalam kegiatan praktik, harus ada tata
tertib penggunaan yang berisi beberapa anjuran dan larangan. Ini penting agar
siswa terbiasa dengan prosedur operasional standar yang berlaku sehingga
menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Jika
proses pembelajaran telah dilaksanakan, maka guru juga harus melaksanakan penilaian
proses dan hasil belajar yang sesuai. Hasil proses penilaian akan digunakan
guru sebagai dasar perbaikan program pembelejaran berikutnya.
Sebelum
melaksanakan penilaian, guru harus menyusun instrumen penilaian yang meliputi 3 aspek yaitu pengetahuan,
keterampilan dan sikap atau karakter.
Ketiga aspek ini harus dilakukan secara terpadu, tidak boleh mengutamakan aspek
yang satu tetapi mengapaikan aspek
lainnya. Ketiganya sama pentingnya, dan akan menjadi bekal baik ketika kelak
sebagai alumni terjun di dunia kerja.
Penilaian
dilakukan berdasarkan rubrik yang telah dibuat dan ditetapkan standar minimal
sebagai batas ketuntasan. Jika ada siswa yang tidak tuntas, maka guru harus
melaksanakan proses pembelajaran remedial dan diakhiri dengan penilaian remedial.
Sebaliknya, bagi siswa yang telah tuntas, harus diberikan program pengayaan
untuk meningkatkan kompetensinya.
Proses
pembelajaran yang didisain tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga
pembelajaran di luar kelas. Proses pembelajaran di luar kelas dapat dilakukan
seperti melakukan kunjungan ke IDUKA. Karena itu, guru perlu merencanakan kapan
kunjungan ke IDUKA ini dilakukan. Guru harus memiliki pemetaan IDUKA yang
relevan dengan kompetensi keahlian, sehingga rencana kunjungan dilakukan tidak
sekedar untuk rutinitas, tetapi dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa.
Setelah
kunjungan IDUKA terlaksana, guru perlu meminta siswa membuat laporan kunjungan
agar siswa mengalami sendiri manfaat kunjungan yung dilakukan. Dari laporan
yang dibuat siswa, selanjutnya guru membuat laporan secara klasikal untuk
dilakukan evaluasi kegiatan
secara
keseluruhan. Pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Vokasi harusnya dikembangkan
dengan menerapkan model pembelajaran
berbasis industri atau yang lebih dikenal dengan Teaching Factory (TEFA).
Melalui TEFA, diharapkan terlaksana pembelajaran dengan mendasarkan pada
pekerjaan nyata, autentik, dan penanaman budaya kerja untuk mendapatkan
pembiasaan berpikir dan bekerja dengan kualitas seperti di tempat kerja/usaha.
Secara
sederhana, pembelajaran TEFA dilaksanakan dengan lebih dulu menetapkan produk
yang akan dihasilkan oleh Sekolah Vokasi sebagai Project. Untuk mengoptimalkan
penggunaan waktu, dapat dilakukan pembelajaran dengan sistem blok, dimana
jadwal pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga kegiatan praktik untuk menghasilkan produk dalam terlaksana sampai
tuntas. Jika proses produksi telah berjalan, kegiatan pemasaran produk juga
harus dirancang secara optimal. Sangat baik jika Sekolah Vokasi telah melakukan kesepakatan dengan IDUKA yang
bersedia menampung produk yang dihasilkan, tentu saja dengan kualitas produk
yang telah disepakati sebelumnya. Proyek pembelajran TEFA tidak harus berbentuk
produk. Untuk kompetensi tertentu dapat pula
mengembangkan proyek dalam bentuk
jasa atau layanan. Untuk kompetensi keahlian desain grafis atau kendaraan
bermotor, proyek yang dirancang dapat berbentuk jasa pembuatan spanduk atau
sejenisnya, dan jasa service bengkel untuk jurusan kendaraan bermotor.
Jika
memungkinkan, pembelajaran TEFA dapat dikembangkan menjadi kelas industri atau
kelas kewirausaaan. Kelas ini dirancang
khusus untuk meningkatkan kemampuan wirausaha dan upskilling kemampuan siswa.
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Vokasi dapat membuat kesepakatan dengan salah
satu IDUKA rekanan. Dukungan IDUKA dapat berupa fasilitasi praktik hingga instruktur atau guru tamu yang khusus
disediakan oleh IDUKA untuk mengajar di sekolah.
Tentu
saja IDUKA juga harus mendapatkan manfaat dari bentuk kerjasama ini. Salah satu
manfaat yang dapat diperoleh IDUKA adalah menjadikan sekolah sebagai plasma
untuk produk atau jasanya. Jadi, semua produk dari kelas industri ini akan
diambil dan digunakan sebagai produk IDUKA langsung.
Siswa
juga perlu belajar sistem akuntansi dan laporan keuangan. Jika unit produksi
berjalan, maka bukan tidak mungkin hasil penjualan produk dan jasa dapat
mendukung biaya operasional sekolah, khususnya untuk mencukupi kebutuhan bahan
dan alat praktik dalam proses pembelajaran. Biaya operasional untuk proses
pembelajaran dan praktikum di Sekolah Vokasi sangat besar, tergantung
kompetensi keahlian atau jurusan. Dukungan dari pemerintah melalui dana BOS,
sering sekali tidak mencukupi apalagi jika dikaitkan dengan peralatan-peralatan
berstandar industri.
Jika sekolah hanya mengandalkan dukungan finansial dari Pemerintah, maka akan sulit untuk mengembangkan pembelajaran yang berbasis industri atau TEFA. Karena itu, pembelajaran TEFA yang dikelola dengan baik akan menolong Sekolah Vokasi untuk memenuhi biaya operasionalnya dengan optimal
Malang,
11 Agustus 2022
Ditulis
Oleh : Sukirman (ketua Umum PERKIVI)