prinsip-prinsip pembelajaran abad 21 di smk

Kebijakan kurikulum 2013 menetapkan strukutur mata pelajaran SMK menjadi tiga kelompok yakni: mata pelajaran kelompok A (normatif), B (adaptif), dan C (produktif). Tiga kelompok matapelajaran tersebut memiliki karakteristik berbeda dalam pelaksanaan pembelajaran. Khusus pada kelompok mata pelajaran produktif, memiliki karakteristik  penanaman kecakapan produktif kepada siswa melalui kegiatan learning by doing, dalam bentuk membuat/menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan standar dunia usaha/industri. Karakteristik ini memiliki implikasi terhadap model-model pembelajaran program produktif, yakni: berbasis masalah, berbasis produksi, dan project-based learning. Tiga model pembelajaran tersebut mempunyai alur dan ritme yang mengembangkan kecakapan produktif. Pembelajaran berbasis masalah mengembangkan perumusan masalah dalam kegiatan produktif, untuk akhirnya siswa merumuskan langkah pemecahannya. Pembelajaran berbasis produktisi, siswa dipandu membuat/menghasilkan barang dan/atau jasa berdasarkan tugas yang diberikan guru. Sedangkan project-based learning dalam program produktif, siswa (pada umumnya berkelompok) dipandu menganalisis kebutuhan, merencanakan kegiatan proyek, melaksanakan kegiatan proyek, dan merumuskan hasil dan mengkomunikasikan hasil.

Berdasarkan uraian di atas, model project-based learning memiliki alur dan ritme yang komprehensif, maupun belajar. Memasuki abad 21 kemajuan teknologi tersebut telah memasuki berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali dibidang pendidikan. Guru dan siswa, dosen danmahasiswa, pendidik dan peserta didik dituntut memiliki kemampuan belajar mengajar di abad 21 ini. Sejumlah tantangan dan peluang harus dihadapi siswa dan guru agar dapat bertahan dalam abad pengetahuan di era informasi ini (Lie, A. 2007). Pendidikan Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya (BSNP, 2010). Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad 21 yang diterbitkan Badan Standar Nasional2. Prinsip Pembelajaran Abad 21 di SMK Pemendikbud No. 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. Sementara itu, Jennifer Nichols memberikan beberapa prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:

1)      Instruction should be student-centered.

Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.

2)      Education should be collaborative.

Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman  di  kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.

3)      Learning should have context

Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real world). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata (Joyce, 2000) Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.

Author
Penulis

Sukirman (Ketua Umum PERKIVI)

"Salah Satu Penulis di PERKIVI ( Perkumpulan Komunitas Industri dan Vokasi Indonesia )"

You May Also Like