prinsip-prinsip pembelajaran abad 21 di smk
- Posted on 11 Agustus 2022
- artikel
- By Sukirman (Ketua Umum PERKIVI)
Kebijakan
kurikulum 2013 menetapkan strukutur mata pelajaran SMK menjadi tiga kelompok
yakni: mata pelajaran kelompok A (normatif), B (adaptif), dan C (produktif).
Tiga kelompok matapelajaran tersebut memiliki karakteristik berbeda dalam
pelaksanaan pembelajaran. Khusus pada kelompok mata pelajaran produktif,
memiliki karakteristik penanaman
kecakapan produktif kepada siswa melalui kegiatan learning by doing, dalam
bentuk membuat/menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan standar dunia
usaha/industri. Karakteristik ini memiliki implikasi terhadap model-model
pembelajaran program produktif, yakni: berbasis masalah, berbasis produksi, dan
project-based learning. Tiga model pembelajaran tersebut mempunyai alur dan
ritme yang mengembangkan kecakapan produktif. Pembelajaran berbasis masalah
mengembangkan perumusan masalah dalam kegiatan produktif, untuk akhirnya siswa
merumuskan langkah pemecahannya. Pembelajaran berbasis produktisi, siswa
dipandu membuat/menghasilkan barang dan/atau jasa berdasarkan tugas yang
diberikan guru. Sedangkan project-based learning dalam program produktif, siswa
(pada umumnya berkelompok) dipandu menganalisis kebutuhan, merencanakan
kegiatan proyek, melaksanakan kegiatan proyek, dan merumuskan hasil dan
mengkomunikasikan hasil.
Berdasarkan
uraian di atas, model project-based learning memiliki alur dan ritme yang
komprehensif, maupun belajar. Memasuki abad 21 kemajuan teknologi tersebut
telah memasuki berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali dibidang pendidikan.
Guru dan siswa, dosen danmahasiswa, pendidik dan peserta didik dituntut
memiliki kemampuan belajar mengajar di abad 21 ini. Sejumlah tantangan dan
peluang harus dihadapi siswa dan guru agar dapat bertahan dalam abad
pengetahuan di era informasi ini (Lie, A. 2007). Pendidikan Nasional abad 21
bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia
yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan
bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri
dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri,
berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya (BSNP, 2010).
Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad 21 yang diterbitkan Badan Standar
Nasional2. Prinsip Pembelajaran Abad 21 di SMK Pemendikbud No. 65 tahun 2013
mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum
2013. Sementara itu, Jennifer Nichols memberikan beberapa prinsip pokok
pembelajaran abad ke 21 yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1) Instruction
should be student-centered.
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan menghafal materi pelajaran yang
diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya,
sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak
berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di
masyarakat.
2) Education
should be collaborative.
Siswa
harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi
dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang
dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong
untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman
di kelasnya. Dalam mengerjakan
suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan
talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri
secara tepat dengan mereka.
3) Learning
should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real world). Guru membantu
siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang
dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru
melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata (Joyce,
2000) Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung
jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam
lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana
siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam
lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program
yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan
hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi
panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.